Selasa, 26 Oktober 2010

Konflik antara individu dan kelompok.

Konflik di sini biasanya dipicu oleh beberapa hal, seperti : anggota kelompok yang tidak dapat memenuhi harapan dan standar kerja, individu yang melanggar norma yang disepakati, serta individu yang melecehkan atau mempermalukan kelompok.

Ray Pneuman (dalam Stevanin, 2000 : 134) mengidentifikasi sumber-sumber konflik antara individu dan kelompok di dalam organisasi. Menurutnya, konflik dapat berlaku jika ada perbedaan nilai dan keyakinan dari anggota organisasi, tidak jelasnya struktur organisasi, tidak cermatnya peran dan tanggung jawab pimpinan, berkembangnya struktur organisasi ke arah yang lebih besar dan luas, tidak berpadunya gaya kepemimpinan yang dipraktekkan oleh manajer dengan para karyawan, pimpinan baru yang terlalu cepat diangkat, komunikasi yang kurang lancar, pertentangan yang tidak terantisipasi oleh pimpinan, para karyawan yang tidak mau menunjang dan berpartisipasi atau pimpinan baru yang masih mengikuti pola lama dari pimpinan yang digantikannya yang tidak disukai karyawan.

TANDA-TANDA AWAL MUNCULNYA KONFLIK

Kemunculan konflik dalam organisasi, di dahului oleh early signs. Ng (2003 : 54) menunjukkan tanda-tanda awal, yaitu : ada perdebatan yang berkelanjutan, ada ekspresi perasaan negatif yang berulang-ulang, sudden drops in attendance, terganggunya komunikasi, unwillingness to communicate, increased telephone call, dan pergantian yang sering dari posisi kepemimpinan. Selanjutnya, Lasey (2003 :46) menyajikan beberapa gejala, seperti : komunikasi berubah bentuk menjadi penulisan memo dan e-mail, lebih banyak orang bekerja di balik pintu tertutup, rapat-rapat tidak memperoleh hasil apa-apa, bahasa "mereka "dan "kita', friksi dan permusuhan antar pribadi, nada suara menjadi tinggi dan ada air mata, terbentuknya gang-gang, rehat makan siang berkepanjangan dan jadwal tidak terjaga, aksi bolos dan tidak masuk kerja dengan alasan sakit, semangat kerja rendah atau ketegangan, orang-orang tampak tertekan dan muram, serta output/kualitas kerja yang terpengaruh.

TAHAP-TAHAP KONFLIK

Konflik tidak muncul seketika dan langsung menjadi besar. Konflik itu berkembang secara bertahap. Jika pemimpin tidak peka mengidentifikasi konflik sehingga intensitas konflik sudah mencapai tahap yang tinggi, maka penyelesaian konflik bisa sangat sukar, dan berpotensi menghancurkan semua pihak. Bila ego terluka dan perasaan tersakiti, maka semua yang terlibat konflik, biasanya akan berusaha mati-matian membela diri dan mencari kemenangan dengan segala cara, agar tidak kehilangan muka. Jadi, jika konflik sudah teridentifikasi sejak awal, dicarikan langkah penyelesaian yang lebih dini, maka relative lebih mudah dalam penanganan konflik.

Louis R. Pondy (dalam George & Jones, 1999:660) merumuskan lima episode konflik yang disebut "Pondys Model of Organizational Conflict". Menurutnya, konflik berkembang melalui lima fase secara beruntun, yaitu : latent conflict, perceived conflict, felt conflict, manifest conflict and conflict aftermath.

1. Tahap I, Konflik terpendam. Konflik ini merupakan bibit konflik yang bisa terjadi dalam interaksi individu ataupun kelompok dalam organisasi, oleh karena set up organisasi dan perbedaan konsepsi, namun masih dibawah permukaan. Konflik ini berpotensi untuk sewaktu-waktu muncul ke permukaan.

2. Tahap II, Konflik yang terpersepsi. Fase ini dimulai ketika para actor yg terlibat mulai mengkonsepsi situasi-situasi konflik termasuk cara mereka memandang, menentukan pentingnya isu-isu, membuat asumsi-asumsi terhadap motif-motif dan posisi kelompok lawan.

3. Tahap III, Konflik yang terasa. Fase ini dimulai ketika para individu atau kelompok yang terlibat menyadari konflik dan merasakan penglaman-pengalaman yang bersifat emosi, seperti kemarahan, frustasi, ketakutan, dan kegelisahan yang melukai perasaan.

4. Tahap IV, Konflik yang termanifestasi. Pada fase ini salah satu pihak memutuskan bereaksi menghadapi kelompok dan sama-sama mencoba saling menyakiti dan menggagalkan tujuan lawan. Misalnya agresi terbuka, demonstrasi, sabotase, pemecatan, pemogokan dan sebagainya.

5. Tahap V, Konflik sesudah penyelesaian. Fase ini adalah fase sesudah konflik diolah. Bila konflik dapat diselesaikan dengan baik hasilnya berpengaruh baik pada organisasi (fungsional) atau sebaliknya (disfungsional).

Sumber : http://www.kadnet.info

Intergroup Conflict

Dalam organisasi, terdapat beberapa factor yang menyebabkan konflik. Mari membahas satu demi satu.

1. Perbedaan dalam tujuan dan prioritas. Setiap sub unit dalam organisasi memiliki tujuan dan prioritas khusus. Misalnya, dalam hubungan kerja, bagian pemasaran ingin agar produknya cepat laku. Kalau perlu dijual murah dan dengan cara kredit. Sebaliknya, bagian keuangan menghendaki pembayaran harus tunai agar posisi kekuangan perusahaan tetap stabil.

2. Saling ketergantungan tugas (task interdependence). Ada yang disebut ketergantungan berurutan (sequential interdependence), dimana output dari suatu unit merupakan input dari unit lain. Misalnya, untuk merespon suatu surat permohonan, kepala bagian masih harus menunggu disposisi dari atasannya. Ada juga yang disebut ketergantungan timbal balik (reciprocal interdependence), seperti hubungan antara dokter, rumah sakit dan laboratorium.

3. Konflik yang disebabkan oleh pembagian sumber daya (resource interdependence). Antarunit kerja bersaing karena untuk mendapatkan sumber daya yang lebih (personil, dana, material, peralatan, ruangan, fasilitas computer dan lainnya).

4. Deskripsi tugas yang tidak jelas. Ini pun akan mengakibatkan konflik. Kekaburan karena tidak ada guide lines dan policies yang jelas, akan membuat kelompok lainnya tersinggung karena dilangkahi.

5. Perbedaan kekuasaan dan status. Biasanya terjadi karena suatu departemen merasa lebih penting atau memiliki rasa over value ketimbang departemen lainnya. Departemen yang lainnya pasti akan merasa dilecehkan.

6. Perbedaan sistim imbalan dan intensif yang diatur per-unit, bukan berdasarkan tujuan organisasi.

7. Faktor birokratik (lini-staf), dimana pegawai lini memiliki wewenang dalam proses pengambilan keputusan sementara staf lebih pada memberikan rekomendasi atau saran. Sering pegawai lini merasa lebih penting, sementara staf merasa lebih ahli. Ujung-ujungnya konflik. Kedelapan, karena sistem komunikasi dan informasi yang terganggu. Kadang, terjadi misunderstanding di kalangan pelaku organisasi karena informasi yang diterima kurang jelas atau bertentangan dengan tujuan yang sebenarnya.


sumber : http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com

Senin, 25 Oktober 2010

Teori Pertukaran Sosial

Teori Pertukaran Sosial dari Thibault dan Kelley ini menganggap bahwa bentuk dasar dari hubungan sosial adalah sebagai suatu transaksi dagang, dimana orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Pada perkembangan selanjutnya, berbagai pendekatan dalam teori pertukaran sosial semakin fokus pada bagaimana kekuatan hubungan antar pribadi mampu membentuk suatu hubungan interaksi dan menghasilkan suatu usaha, untuk mencapai keseimbangan dalam hubungan tersebut.

Teori pertukaran sosial ini juga digunakan untuk menjelaskan berbagai penelitian mengenai sikap dan perilaku dalam ekonomi (Theory of Economic Behavior). Selain itu, teori ini juga digunakan dalam penelitian komunikasi, misalnya dalam konteks komunikasi interpersonal, kelompok dan organisasi. Oleh karena itu, teori pertukaran sosial ini, selain menjelaskan mengenai sikap dalam ekonomi, juga menjelaskan mengenai hubungan dalam komunikasi.

Thibault dan Kelley menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut, “asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”. Ganjaran, biaya, laba dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini (Rahmat, 2002: 121).

Empat konsep tersebut antara lain:

1. Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dalam suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, penerimaan sosial atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain.

2. Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat didalamnya.

3. Hasil dan laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila dalam suatu hubungan seorang individu merasa bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba.

4. Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu seorang individu mengalami hubungan yang memuaskan, tingkat perbandingannya menurun.

Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam teori ini adalah:

1. Individu yang terlibat dalan interkasi akan memaksimalkan rewards

2. Individu memiliki akses untuk informasi mengenai sosial, ekonomi, dan aspek-aspek psikologi dari interkasi yang mengizinkan mereka untuk mempertimbangkan berbagai alternatif.

3. Individu bersifat rasional dan memperhitungkan kemungkinan terbaik untuk bersaing dalam situasi menguntungkan.

4. Individu berorientasi pada tujuan dalam system kompetisi bebas.

5. Pertukaran norma budaya.


sUMBER : http://teddykw1.wordpress.com

Forming dari segi perspektif psikodinamik dan sosiobiologi

Perspektif psikodinamik

Perspektif psikodinamik menjadi pangkal dari tingkah laku sosial yang dinamis dan saling mempengaruhi antara kebutuhan dasar psikologis dan keinginan.
Pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud (1922) yang mengemukakan bahwa individu berkelompok untuk pemuasan biologis dan ditempatkan untuk pemuasan dasar biologis dan
kebutuhan psikologis akan menimbulkan ketidakbahagiaan apabila tidak dipenuhi.

Dalam buku Group Psychology and the Analysis of the Ego , Freud (1922) menjelaskan formasi kelompok dalam lingkup dua proses yang saling berkaitan: identifikasi dan transferensi. Fokus Pertama pada identifikasi yaitu energi emosional individu (libido) dapat diarahkan pada dirinya sendiri atau orang lain.
Freud menjelaskan bagaimana Konsep lainnya adalah transferensi, Freud menjelaskan bagaimana formasi Kelompok Pertama anak mempengaruhi terapi kelompoknya dikemudian hari.
Transferensi ini dapat membawa identifikasi terhadap Kelompok yang menjadi ego ideal
bagi seluruh anggota Kelompok.

Perspektif Sosiobiologi

Sosiobiologi didasarkan atas teori evolusi Charles Darwin. Meski Darwin membahas mengenai anatomi dan kebugaran biologikal, Sosiobiologi menggunakan konsep yang menjelaskan tingkah laku binatang dalam situasi sosial. Sosiobiologi
berpendapat bahwa bergabung dengan anggota lain dalam satu spesies merupakan
" expression of the evolutionarily or curtrally stabilized strategies of individual animal that on averege enhance their reproductive success ” (Crook, 1981, p. 88).

The “Herd” Instinct
Kebutuhan untuk afiliasi Bukan dipelajari melalui pengalaman, namun merupakan manifestasi dari instinctive yang terdapat pada kebanyakan spesies. Formasi Kelompok memberikan perlindungan dari pemburuan, dan kelompok pemburu hanya pembawa
mangsa. Schachter (1959) berpendapat bahwa kebutuhan untuk meraih kejelasan kognitif yang telah Festinger kemukakan adalah akibat langsung dari informasi kelompok. Schachter memperkirakan:
(1) Seseorang akan menggabungkan diri ketika opini, sikap, kepercayaan mereka
diserang.
(2) Kegiatan-kegiatan yang tidak direncanakan akan menuju sebuah “pencarian
untuk infomasi kenyataan sosial ", dan bahwa
(3) Keanggotaan kelompok akan memuaskan kebutuhan akan informasi.


sumber : http://file.upi.edu

tAhaP-tAhaP PeMbenTukaN kELompokz..

Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman pada 1965. Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah konsep ini dicetuskan. Teori ini mencetuskan pada cara suatu kelompok menghadapi suatu tugas mulai dari awal pembentukan kelompok hingga proyek selesai. Selanjutnya Tackman menambahkan tahap kelima yaitu adjourning dan transforming untuk melengkapi teori ini.

Tahap 1 - Forming
Pada tahap ini,kelompok baru dibentuk dan diberi tugas. Anggota kelompok cenderung bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu dihabiskan untuk merencanakan,mengumpulkan informasi dan mendekatkan diri satu sama lain.

Tahap 2 - Storming
Pada tahap ini kelompok mulai mengembangkan ide-ide yang berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi.Mereka membahas isu-isu semacam masalah apa yang harus mereka selesaikan, bagaimana fungsi mereka masing-masing dan model kepemimpinan seperti apa yang dapat mereka terima. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasikan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus,tahap storming cepat selesai. Namun ada beberapa kelompok yang mandek pada tahap ini. Tahap storming adalah tahap yang sangat penting dalam perkembangan suatu kelompok. Tahap ini bisa saja menyakitkan bagi anggota kelompok yang menghindari konflik. Anggota kelompok harus memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada.

Tahap 3 - Norming
Terdapat kesepakatan dan konsensus antar anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Kelompok telah menemukan harmoni seiring dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi penting masing-masing anggota kelompok.

Tahap 4 - Performing
Kelompok pada tahap ini berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam berkomunikasi.
Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipasif. Keputusan penting justru diambil dari kelompok.

Tahap 5 - Adjourning and Transforming
Ini adalah tahap terakhir dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap manapun ketika mereka mengalami perubahan (transforming). Misalnya jika ada review mengenai goal ataupun ada perubahan anggota kelompok.


Keunggulan teori ini adalah menjadi suatu pedoman dalam pembentukan suatu kelompok. Selain itu keterbatasannya antara lain :
> Model ini didesain untuk menjelaskan tahap-tahap yang terjadi dalam kelompok dengan ukuran kecil.
> Pada kenyataannya,proses kelompok tidak linear seperti penjelasan pada teori Tackman, namun lebih bersifat siklus.
> Karakteristik tiap tahap tidak selalu saklek seperti itu. Karena model ini berkaitan dengan perilaku manusia, maka kadang tidak terlalu jelas ketika suatu kelompok berpindah dari satu tahap ke tahap lainnya. Mungkin saja terjadi tumpang tindih antar tahap tersebut.
> Model ini tidak memperhitungkan peranan yang harus diambil individu dalam suatu kelompok.
> Tidak ada pedoman mengenai jangka waktu mengenai perpindahan dari satu tahap ke tahap lainnya.

Sumber : (WIKIPEDIA, 12MANAGE, THE TEAM BUILDING COMPANY)

Rabu, 20 Oktober 2010

Sejarah Dinamika Kelompok

Sejarah munculnya dinamika kelompok dapat diuraikan sebagai berikut :

* Zaman Yunani

Pada masa ini berkembang ajaran Plato, bahwa daya-daya pada individu tercermin dalam struktur masyarakat dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Masing-masing struktur masyarakat tersebut merupakan kelompok yang terpisah satu sama lain dan tiap-tiap golongan memiliki norma yang berfungsi sebagai pemersatu dan pedoman dalam interaksi sosial antar anggota masing-masing golongan. Pada masa ini ikatan persatuan dan interaksi sosial terjalin dengan kuat, sehingga masing-masing golongan dapat mempertahankan kesatuannya dan tidak terpecah-pecah dalam kelompok/golongan yang lebih kecil.

* Zaman liberalisme

Pengaruh cara berfikir bebas mengakibatkan individu bebas menentukan segala sesuatu bagi dirinya dan tiap individu tidak bisa menetukan individu lain dalam kehidupan. Kebebasan ini justru membawa malapetaka pada individu, karena individu merasa tidak mempunyai pedoman dalam kehidupan, sehingga mereka merasa tidak memiliki kepastian. Kondisi tersebut membuat individu merasa ketakutan, sehingga berbagai cara mereka tempuh untuk untuk menghilangkan ketakutan dan memperoleh pedoman dalam menjalani hidup. Gagasan individu yang muncul pada saat itu adalah mengadakan perjanjian social antara sesamanya dan hal tersebut dirumuskan dalam Leviathan atau Negara yang diharapkan dapat menjamin hidup mereka.

* Zaman gerakan massa

Adanya bentuk pemerintahan otokrasi dengan segala bentuk penekanannya mengakibatkan masyarakat menunjukkan pergolakan untuk membebaskan diri dan membentuk pemerintahan yang diinginkan. Gerakan massa ini mendorong Gustave Le Bon melakukan penyelidikan secara intensif dan mendalam pada gerakan massa. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa dalam gerakan massa tiombul apa yang dinamakan sugesti, yang mengakibatkan gerakan massa tersebut dala setiap individu kehilangan control diri terhadap mereka. Apabila ditinjau, massa yang memiliki gerakan sedemikian hebat, tentu massa tersebut mempunyai anggota, norma, pimpinan dan tujuan yang hal ini tidak ubahnya seperti bentuk suatu kelompok.

* Zaman psikologi sosial

Penyelidikan terhadap massa memberikan motivasi kepada ahli untuk mengadakan penyelidikan lebih mendalam terhadap massa, meskipun risikonya besar. Pada abad ke-20, para ahli mengubah arah penyelidikannya dan mereka lebih tertarik untuk mengadakan penyelidikan terhadap gejala-gejala psikis dalam situasi tertentu. Edward A. Ross mengadakan penyelidikan terhadap hubungan psikis antara individu dengan lingkungannya. Dalam meninjau situasi sosial maka situasi tersebut adalah situasi yang mengakibatkan berkumpulnyasejumlah individu pada saat tertentu. Hal ini tidak berbeda dengan anggapan bahwa situasi sosial berarti membawa pula adanya kelompok.

* Zaman dinamika kelompok

Erich Fromm mengawali kegiatan penyelidikannya yang disusun dalam buku Escape From Freedom untuk menunjukkan perlunya individu bekerja sama dengan individu lain, hingga timbul solidaritas dalam kehidupannya. Hal ini disebabkan karena terdorong oleh adanya keinginan individu untuk memperoleh kepastian dalam kehidupan ketika hasrat kepastian ini hanya diperoleh apabila masing-masing individu memiliki rasa solidaritas. Moreno mengemukakan bahwa perlunya kelompok-kelompok kecil seperti keluarga, regu kerja, regu belajar, ketika di dalam kelompok itu terdapat suasana saling menolong, hingga kohesi menjadi kuat, dan kelompok yang makin kuat kohesinya, makin kuat moralnya. Kurt Lewin menyimpulkan bahwa tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh kelompok yang menjadi anggotanya. Jadi jelaslah bahwa kelompok itu memang benar-benar mempunyai pengaruh terhadap kehidupan individu.

Sumber : http://harismasterpsikology.wordpress.com

Selasa, 19 Oktober 2010

Crowd AktiF dan Pasif. . .

Crowd merupakan suatu fenomena dalam kehidupan sosial manusia. Crowd sering menjadi fokus perhatian masyarakat luas,dan bersifat destruktif apabila diikuti perilaku agresif sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadadap lingkungan sosial. Sebagai contoh,crowd sepakbola bisa menjadi kerusuhan masal apabila diwarnai dengan perilaku agresif yang bersifat destruktif seperti pembakaran,pengrusakan,penganiayaan.

Brown dalam (Milgran & Touch,1985) mengatakan bahwa suatu crowd dibagi dalam 2 jenis :

@ Aktif Crowd dapat disebut Mob,yaitu crowd yang mengacu pada tindakan yang cenderung melanggar hukum dan bisa menyakiti sesorang. Sebagai contoh crowd yang saat terjadinya kerusuhan politik di Indonesia tahun 1998.

@ Pasif Crowd biasa disebut Audience , yaitu crowd yang timbul atas adanya stimulus berupa kejadian atau stimulus tertentu biasanya diwarnai dengan euphoria oleh partisipannya dan tidak berpotensi menimbulkan kerusuhan. Sebagai contoh crowd pada konser musik rock yang berjalan tertib.

Allport dalam (Milgran & Touch,1985) mengatakan bahwa crowd berubah menjadi Mob ketika emosi yang terjadi pada saat crowd diselimuti rasa marah dan berubah menjadi panik ketika emosi tersebut diselimuti rasa takut.

Sumber : www.lontar.ui.ac.id

MAssa AbstraK

Massa abstrak adalah sekumpulan orang-orang yang didorong oleh adanya pesamaan minat, persamaan perhatian, persamaan kepentingan, persamaan tujuan, tidak adanya struktur yang jelas, tidak terorganisir. Sedangkan yang dimaksud dengan massa konkrit adalah massa yang mempunyai ciri-ciri:

1) Adanya ikatan batin, ini dikarenakan adanya persamaan kehendak, persamaan tujuan, persamaan ide, dan sebagainya.

2) Adanya persamaan norma, ini dikarenakan mereka memiliki peraturan sendiri, kebiasaan sendiri dan sebagainya.

3) Mempunyai struktur yang jelas, di dalamnya telah ada pimpinan tertentu.

Alasan-alasan munculnya massa abstrak adalah :
a. adanya suatu kejadian yang menarik

b. individu mendapat ancaman dan ia membutuhkan perlindungan

c. kebutuhan tidak dapat terpenuhi

d. adanya kesamaan minat, perhatian dan kepentingan yang sama

Antara massa absrak dan massa konkrit kadang-kadang memiliki hubungan dalam arti bahwa massa abstrak dapat berkembang atau berubah menjadi konkrit, dan sebaliknya massa konkrit bisa berubah ke massa abstrak. Tetapi ada kalangan massa abstrak bubar tanpa adanya bekas. Apa yang dikemukakan oleh Gustave Le Bon dengan massa dapat disamakan dengan massa abstrak yang dikemukakan oleh Mennicke, massa seperti ini sifatnya temporer, dalam arti bahwa massa itu dalam waktu yang singkat akan bubar.

Sumber : http://adibuluk.blogspot.com/2010/10/massa-abtrak-dan-massa-konkrit.html

MaSSa. . . .

Massa secara umum massa diartikan sebagai orang yang tidak saling mengenal, berjumlah banyak, anggotanya heterogen, berkumpul di suatu tempat dan tidak individualistis. Massa memiliki kesadaran diri yang rendah, tidak dapat bergerak dengan terorganisir, tidak bertindak untuk dirinya sendiri melainkan terdapat “dalang” di belakangnya yang berfungsi memanipulasi mereka. Ini berbeda pengertiannya bila dikaitkan dengan ilmu komunikasi. Massa dalam komunikasi lebih merujuk pada penerima pesan media massa atau disebut audience.


Masyarakat menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.


Crowd Le Bon berpendapat bahwa dalam pengertian sehari-hari istilah kerumunan berarti sejumlah individu yang berkumpul bersama, namun dari segi psikologis istilah kerumunan mempunyai makna sekumpulan orang yang mempunyai ciri baru yang berbeda yaitu berhaluan sama dan kesadaran perseorangan lenyap dan terbentuknya satu makhluk tunggal kerumunan terorganisasi (organized crowd) atau kerumunan psikologis (psychological crowd).


MOB disini juga dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang melakukan gerakan massa secara sukarela dikarenakan adanya alasan tertentu (dalam Myers, 1996 : 305). Pelaku dari kerusuhan massa ini dapat digolongkan sebagai Pelaku aktif yakni orang yang secara aktif melakukan agresi dalam bentuk teriakan, gerakan menyerang dan melempari.

Sumber : http://kyucha.blogspot.com

Selasa, 12 Oktober 2010

Aggregat

Agregat merupakan sekumpulan orang yang sama-sama berada di suatu tempat(perpustakaan, halte bus,dll) tetapi tidak berinteraksi dan memiliki tujuan sendiri-sendiri.

Kita melewatkan waktu melalui beragam agregat sosial yang merupakan istilah umum adalah sekelompok orang. Ada beberapa contoh jenis agregat sosial :

· Agregat statistik untuk tujuan penelitian, kadang membutuhkan pengelompokan untuk menganalisis seluruh anggota suatu kategori sosial tertentu seperti semua wanita, semua kepala rumah tangga yang tidak bekerja, atau semua orang yang berusia diatas 65 tahun. Semua anggota agregat sosial memiliki beberapa kareteristik umum, meskipun mungkin mereka tidak saling mengenal atau berinteraksi.

· Audiens : semua orang yang mendengar siaran berita disebuah saluran Televisi adalah bagian dari kelompok hadirin yang sama meskipun mereka tidak saling kenal dan tidak berinteraksi.

· Kerumunan ( crowd ) : sekelompok orang yang berada dalam kedekatan fisik dan bereaksi terhadap stimulus atau situasi umum disebut kerumunan. Contoh : orang yang sedang menyaksikan keributan di Jakarta.

· Tim : sekelompok orang yang secara teratur berinteraksi dalam kaitannya dengan aktifitas atau tujuan bersama seperti dalam kelompok kerja, tim olah raga, klub catur, merupakan suatu tim.

· Keluarga : sekalipun jenisnya banyak, pada hakikatnya keluarga terbentuk dari sekelompok orang yang diikat oleh hubungan kelahiran atau aturan hukum dan biasanya tinggal bersama di suatu tempat.

· Organisasi formal : merupakan agregat yang lebih besar dari orang –orang yang sering bekerja bersama-sama dengan cara yang terstruktur jelas dalam usaha mencapai tujuan bersama. Contoh sistem sekolah, masjid, parpol, dan sebagainya.

Dalam bahasa sehari-hari biasanya kita menyebut ini sebagai kelompok (group). Tapi ilmuwan sosial menggunakan istilah kelompok dalam pengertian yang lebih sempit, Kelompok adalah agregat sosial dimana anggota-anggotanya tergantung dan setidak-tidaknya memiliki potensi untuk berinteraksi satu dengan yang lain. Definisi ini menekankan ciri penting suatu kelompok, yaitu bahwa dengan berbagai cara anggota-anggotanya relative secara langsung dan tidak langsung saling mempengaruhi satu sama lain.

Kelompok memiliki keragaman dalam banyak hal : ukuran, lamanya, nilai-nilai dan tujuan serta ruang lingkup. Salah satu dimensi yang paling penting adalah ukuran kelompok yang terkecil adalah diadik atau pasangan. Sebagai bagian penelitian tentang kelompok memusatkan diri pada kelompok kecil yang berkisar antara 3 – 20 orang. Bila ukuran bertambah besar, agregat sosial cenderung menjadi organisasi formal. Untuk menekankan perbedaan antara kelompok dengan organisasi formal beberapa peneliti lebih menyukai istilah kelompok kecil untuk anggotanya melakukan interaksi tatap muka.

Kelompok bervariasi menurut lamanya, berapa lama kelompok tersebut berada bersama-sama. Sebagai contoh, Keluarga dapat berlanjut hingga beberapa generasi dimana anggota-anggota baru bergabung dalam kelompok ini melalui kelahiran atau pernikahan dan yang lain meninggalkan melalui kematian dan perceraian. Anggota dewan hakim dapat bekerja dalam beberapa hari untuk membahas suatu kasus dan kemudian berpisah setelah pengadilan berakhir.

Kelompok juga bervariasi dalam hal nilai dan tujuan. perhatikan sejenak perbedaan diantara perkumpulan catur, kelompok pemuda lokal, himpunan mahasiswa, atau kelompok pengajian, kelompok yag akan kita masuki tergantung pada nilai nilai pribadi, minat dan tujuan kita sendiri,

Besar atau ruang lingkup kegiatan yang ditunjukan oleh suatu kelompok merupakan suatu dimensi lain yang penting. Ada suatu kelompok yang terpusat pada suatu masalah, misalnya sebagai reaksi terhadap suasana kerja yang semakin tidak menyenangkan, mungkin sekelompok pekerja membentuk kelompok untuk memusatkan beberapa alternatif dan mengajukannya pada pihak manajemen. Disini kelompok dibentuk untuk tujuan khusus. Sebaliknya, kelompok seperti keluarga melakukan berbagai kegiatan yang beragam.

Sumber :
-http://webcache.googleusercontent.com
-Buku Social Psychology Sixth Edition oleh Elliot Aronson

Massa

Dalam masyarakat tertentu ada sebagian penduduk ikut terlibat dalam kepemimpinan, sebaliknya dalam masyarakat tertentu penduduk tidak diikut sertakan. Dalam pengertian umum elite menunjukkan sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih khusus lagi elite adalah sekelompok orang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan.

Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan : “ posisi di dalam masyarakat di puncak struktur struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan, aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas.” Tipe masyarakat dan sifat kebudayaan sangat menentukan watak elite. Dalam masyarakat industri watak elitnya berbeda sama sekali dengan elite di dalam masyarakat primitive.

Di dalam suatu pelapisan masyarakat tentu ada sekelompok kecil yang mempunyai posisi kunci atau mereka yang memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil berbagai kehijaksanaan. Mereka itu mungkin para pejabat tugas, ulama, guru, petani kaya, pedagang kaya, pensiunan an lainnya lagi. Para pemuka pendapat (opinion leader) inilah pada umumnya memegang strategi kunci dan memiliki status tersendiri yang akhirnya merupakan elite masyarakatnya.

Ada dua kecenderungan untuk menentukan elite didalam masyarakat yaitu : pertama menitik beratkan pada fungsi sosial dan yang kedua, pertimbangan-pertimbangan yang bersifat moral. Kedua kecenderungan ini melahirkan dua macam elite yaitu elite internal dan elite eksternal, elite internal menyangkut integrasi moral serta solidaritas sosial yang berhubungan dengan perasaan tertentu pada saat tertentu, sopan santun dan keadaan jiwa. Sedangkan elite eksternal adalah meliputi pencapaian tujuan dan adaptasi berhubungan dengan problem-problem yang memperlihatkan sifat yang keras masyarakat lain atau masa depan yang tak tentu.

Isilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal menyerupai crowd tetapi yang secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain. Massa diwakili oleh orang-orang yang berperan serta dalam perilaku misalnya seperti mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, mereka yang menyebar di berbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan sebagai diberitakan dalam pers atau mereka yang berperan serta dalam suatu migrasi dalam arti luas. Ciri-ciri massa adalah :

1. Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakmuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai massa misalnya orang-orang yang sedang mengikuti peradilan tentang pembunuhan misalnya malalui pers

2. Massa merupakan kelompok yang anonym, atau lebih tepat, tersusun dari individu-individu yang anonym

3. Sedikit interaksi atau bertukar pengalaman antar anggota-anggotanya

Sumber : http://webcache.googleusercontent.com

Kelompok Primer

Kelompok primer & jaringan komunikasi
Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi dalam kelompoknya, tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri dalam dunia ini, karena sebagai makhluk sosial, manusia harus berhubungan satu dengan yang lain. Manusia berbeda dengan binatang, pada sebagian besar binatang seperti anak ayam, walaupun baru beberapa hari dilahirkan ia langsung bisa mencari makan sendiri. Manusia untuk hidup sendiri tanpa orang lain memerlukan waktu yang lama sekali. Seorang bayi untuk makan, berjalan, & bermain-main membutuhkan bantuan orang lain, untuk itu ia harus berhubungan dengan yang lain. Manusia yang dibiarkan hidup sendiri tanpa berhubungan dengan orang lain, mungkin hanya dapat bertahan untuk beberapa lama, selanjutnya jika dibiarkan untuk jangka waktu tertentu, perkembangan jiwanya akan terganggu. Soekanto (1982, 111) mengatakan bahwa manusia mempunyai hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
1. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya.
2. Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

Untuk dapat memenuhi kedua keinginan itu, manusia perlu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, & perlu menggunakan akal pikirannya dengan jernih & penuh perhatian. Manusia dalam hubungannya dengan yang lain akan saling berinteraksi atau berkomunikasi satu dengan yang lain. Bentuk komunikasi yang dilakukan bergantung pada komunikannya. Jika berkomunikasi hanya dengan satu orang saja, maka itu termasuk kelompok primer, & bentuk komunikasinya adalah komunikasi antar persona atau face to face communication, di mana hubungan antara anggota-anggotanya rapat sekali satu sama lain. Menurut Charles Horton Cooley (dalam Soekanto, 1982, 121) kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Salah satu hasil hubungan yang erat & bersifat pribadi tadi adalah peleburan dari individu-individu dalam kelompok-kelompok, sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok-kelompok tersebut.

Dari pendapat Cooley tersebut, ada dua hal yang dapat dikemukakan mengenai kelompok primer, yaitu:
1. Satu kelas yang terdiri dari kelompok yang kerja samanya erat, seperti, keluarga, rukun tetangga, rukun kampung, & lain sebagainya.
2. Satu kelas lain yang saling kenal mengenal, terutama yang menekankan kepada sifat hubungan antar pribadi seperti simpati, kerja sama, & spontan.
Yang penting dalam kelompok primer ini adalah hubungan timbal balik antar anggota-anggotanya secara psikologis adalah peleburan dari pada individu dengan cita-citanya masing-masing, sehingga tujuan & cita-cita individu juga menjadi tujuan & cita-cita kelompoknya, serta hubungan antara anggota-anggotanya selalu harmonis.

Mengenai kelompok primer ini Soekanto (1982, 122) menambahkan bahwa anggota-anggota kelompok tersebut:
1. Secara fisik berdekatan satu dengan lainnya.
2. Kelompok tersebut adalah kecil.
3. Adanya hubungan antar anggotanya.
Agar terjadi hubungan yang akrab, Soekanto selanjutnya menyatakan bahwa individu yang bersangkutan mau tidak mau secara fisik harus saling kenal mengenal. Saling berbicara & saling melihat merupakan kondisi di mana bisa bertukar pikiran. Kelompok primer seperti yang telah dikemukakan cirinya adalah di mana dalam interaksi tiap individu dapat leluasa menyimak lawan bicaranya. Karena wujudnya yang saling berhadapan satu dengan yang lain maka reaksi di antaranya terlihat bebas. Bebas dalam pengertian keduanya yaitu komunikator & komunikan dapat langsung memberi tanggapan atau bereaksi jika pembicaraan antara keduanya tidak terdapat saling pengertian. Adanya saling pengertian antara pihak yang berkomunikasi dalam kelompok primer sangat diperlukan agar komunikasi berlanjut, & kedua pihak saling mengerti isi pembicaraan. Untuk yang terakhir ini, Hannesey menambahkan bahwa yang dimaksud tatap muka tidak perlu diartikan saling berhadapan secara fisik sebab face to face itu bisa saja terjadi dalam ruang yang berbeda atau berjauhan, sekali pun jaraknya terpisah beberapa kilometer, puluhan kilometer, berbeda kota, atau propinsi bahkan benua. Unsur yang penting dari kelompok primer atau jaringan komunikasi primer adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah perorangan. Kelompok primer & jaringan komunikasi yang dibentuk oleh mereka sangat berbeda dalam fungsi, tujuan, keanggotaan, & tingkat formalitasnya. Seperti Cooley, Hannesey (1981, 190) menyatakan bahwa bentuk komunikasi antar persona atau tatap muka adalah kelompok primer yang ditandai dengan kerja sama & persatuan tatap muka yang akrab.


SUMBER : http://humasbdg.wordpress.com

Dyad & Triad

Dyad merupakan aktivitas dimana anggotanya dipasangkan dengan satu
sama lain untuk mendiskusikan persoalan-persoalan atau untuk
menyelesaikan suatu tugas. Begitu halnya dengan triad, yakni aktivitas
dimana anggota kelompok dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang
terdiri atas tiga orang. Triad dibentuk saat anggota kelompok berjumlah
ganjil.

Pada umumnya dyad dan triad sangat berguna karena memberikan
kesempatan bagi anggota untuk memiliki kontak yang lebih personal
dengan satu sama lain, mengemukakan ide, dan memvariasikan format
kelompok.
Kegunaan latihan dyad dan triad antara lain :
• berinteraksi dengan 2 atau 3 individu lainnya
• mempraktikkan beberapa keterampilan
• melakukan aktivitas antara 2 orang agar dapat berinteraksi dalam kondisi
tertentu
• bermanfaat dalam mengembangkan aktivitas yang dilakukan kelompok
• mempererat interaksi yang terjadi antar anggota kelompok.



Sumber : http://file.upi.edu/Direktori/A - FIP/JUR. PSIKOLOGI PEND DAN BIMBINGAN

Organisasi

Organisasi sosial

Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.[7] Berdasarkan sifat resmi tidaknya, dikenal ada dua jenis organisasi sebagai berikut :

a. Organisasi Formal

Organisasi formal memiliki suatu struktur yang terumuskan dengan baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoritasnya, kekuasaan, akuntabilitas dan tanggung jawabnya. Struktur yang ada juga menerangkan bagaimana bentuk saluran-saluran melalui apa komunikasi berlangsung. Kemudian menunjukkan tugas-tugas terspesifikasi bagi masing-masing anggotanya. Hierarki sasaran organisasi formal dinyatakan secara eksplisit. Status, prestise, imbalan, pangkat dan jabatan, serta prasarat lainya terurutkan dengan baik dan terkendali. Selain itu organisasi formal tahan lama dan mereka terencana dan mengingat bahwa ditekankan mereka beraturan, maka mereka relatif bersifat tidak fleksibel. Contoh organisasi formal ádalah perusahaan besar, badan-badan pemerintah, dan universitas-universitas (J Winardi, 2003:9).

b. Organisasi Informal

Keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu eksak seseorang menjadi anggota organisasi tersebut. Sifat eksak hubungan antar anggota dan bahkan tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh organisasi informal adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam bersama. Organisasi informal dapat dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang dilakukan terstruktur dan terumuskan. Selain itu, organisasi juga dibedakan menjadi organisasi primer dan organisasi sekunder menurut Hicks:

* Organisasi Primer, organisasi semacam ini menuntut keterlibatan secara lengkap, pribadi dan emosional anggotanya. Mereka berlandaskan ekspektasi rimbal balik dan bukan pada kewajiban yang dirumuskan dengan eksak. Contoh dari organisasi semacam ini adalah keluarga-keluarga tertentu.
* Organisasi Sekunder, organisasi sekunder memuat hubungan yang bersifat intelektual, rasional, dan kontraktual. Organisasi seperti ini tidak bertujuan memberikan kepuasan batiniyah, tapi mereka memiliki anggota karena dapat menyediakan alat-alat berupa gaji ataupun imbalan kepada anggotanya. Sebagai contoh organisasi ini adalah kontrak kerjasama antara majikan dengan calon karyawannya dimana harus saling setuju mengenai seberapa besar pembayaran gajinya.




Alasan berorganisasi

Organisasi didirikan oleh sekelompok orang tentu memiliki alasan. Seorang pakar bernama Herbert G. Hicks mengemukakan dua alasan mengapa orang memilih untuk berorganisasi: a. Alasan Sosial (social reason), sebagai “zoon politicon ” artinya mahluk yang hidup secara berkelompok, maka manusia akan merasa penting berorganisasi demi pergaulan maupun memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat kita temui pada organisasi-organisasi yang memiliki sasaran intelektual, atau ekonomi. b. Alasan Materi (material reason), melalui bantuan organisasi manusia dapat melakukan tiga macam hal yang tidak mungkin dilakukannya sendiri yaitu: 1) Dapat memperbesar kemampuannya 2) Dapat menghemat waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu sasaran, melalui bantuan sebuah organisasi. 3) Dapat menarik manfaat dari pengetahuan generasi-generasi sebelumnya yang telah dihimpun.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_sosial

Aktivitas kelompok bersenjata di Sinabung

Setelah polisi melakukan peninjauan lokasi latihan fisik di Lereng Gunung Sibayak, yang ditunjuk oleh tersangka teroris yang tertangkap, kini tersiar kabar bahwa aktivitas bersenjata unjuk diri di kawasan Gunung Sinabung, Karo, Sumatra Utara.

Disebutkan bahwa tiga turis asing asal Perancis dan Belanda melaporkan, Rabu (6/10), bahwa mereka “diberondong” tembakan oleh orang tak dikenal
saat melakukan pendakian di Gunung Sinabung. Para turis itu langsung melaporkan hal itu ke polisi.

Merespon laporan, petugas polisi bersenjata pun bergerak menuju lokasi Gunung Sinabung, dan melakukan pemantauan, penyelidikan dan pengejaran.
Hingga lewat tengah malam, belum diketahui perkembangan atas peristiwa
tersebut.

Jika memang laporan itu terbukti benar, informasi sebelumnya yang menyebutkan bahwa pelatihan kelompok bersenjata “pernah” yang diduga teroris dilakukan di sekitar Gunung Sinabung semakin jelas. Maka, aktivitas kelompok atau orang bersenjata sudah memanfaatkan jajaran pegunungan Sibayak dan Sinabung dan hutan Bukit Barisan sebagai lokasi pelatihan bahkan mungkin kantung-kantung persembunyian mereka.
*(Liputan6.com/Yahoo/bs/int)



Sumber : www.medantalk.com/aktivitas-kelompok-bersenjata-di-sinabung

Kesamaan Kelompokzz...

Kesamaan

Gagasan tentang "burung bulu kawanan bersama" menunjukkan kesamaan yang merupakan penentu penting daya tarik interpersonal. Keyakinan bahwa orang-orang dengan kesamaan yang sebenarnya menghasilkan daya tarik awal. Kesamaan dirasakan mengembangkan seseorang untuk menilai orang lain sebagai diri mereka sendiri dalam berlangsungnya hubungan. Persepsi tersebut adalah salah satu (persahabatan) atau(hubungan romantis). Newcomb (1963) menunjukkan bahwa orang cenderung untuk mengubah kesamaan persepsi untuk memperoleh keseimbangan dalam hubungan. Selain itu, kesamaan persepsi ditemukan lebih besar dari kesamaan yang sebenarnya dalam memprediksi atraksi interpersonal.

Kesamaan dalam berbagai aspek

Temuan menunjukkan bahwa kesamaan interpersonal dan daya tarik yang multidimensi konstruksi (Lydon, Jamieson & Zanna, 1988), di mana orang tertarik kepada orang lain yang serupa dengan mereka dalam demografi, penampilan fisik, sikap, gaya interpersonal, latar belakang sosial dan budaya, kepribadian, kepentingan dan preferensi kegiatan, dan komunikasi dan keterampilan sosial. Sebuah studi yang dilakukan oleh Theodore Newcomb (1961) di asrama perguruan tinggi teman sekamarnya menyarankan bahwa orang dengan latar belakang bersama, prestasi akademik, sikap, nilai, dan pandangan politik menjadi teman.

Penampilan fisik
Sebuah hipotesis pencocokan diusulkan oleh sosiolog Erving Goffman menunjukkan bahwa orang lebih mungkin untuk membentuk hubungan jangka panjang dengan mereka yang sama-sama cocok dalam atribut sosial, seperti daya tarik fisik. Studi yang dilakukan oleh peneliti Walster dan Walster mendukung pencocokan hipotesis dengan menunjukkan bahwa mitra yang serupa dalam hal daya tarik fisik menyatakan paling suka satu sama lain. Studi lain juga menemukan bukti yang mendukung hipotesis yang cocok: foto pasangan kencan dan terlibat dinilai dalam hal daya tarik, dan kecenderungan pasti ditemukan untuk pasangan daya tarik sama dengan tanggal atau terlibat.

Namun, kecepatan-dating Percobaan dilakukan pada mahasiswa pascasarjana dari Columbia University menunjukkan bahwa meskipun daya tarik fisik lebih disukai dalam calon pasangan, pria menunjukkan preferensi yang lebih besar daripada wanita.

Sikap
Menurut 'hukum ketertarikan' oleh Byrne (1971), daya tarik terhadap orang yang secara positif berkaitan dengan proporsi kesamaan sikap berhubungan dengan orang itu. Berdasarkan konsistensi kognitif teori, perbedaan sikap dan kepentingan dapat menyebabkan benci dan penghindaran (Singh & Ho, 2000; Tan & Singh, 1995) sedangkan kesamaan dalam sikap mempromosikan daya tarik sosial (Byrne, London & Reeves, 1968; Singh & Ho , 2000). Miller (1972) menunjukkan bahwa kesamaan sikap mengaktifkan daya tarik yang dirasakan dan informasi yang mendukung kemampuan dari satu sama lain, sedangkan perbedaan akan mengurangi dampak dari isyarat.

Penelitian oleh Jamieson, Lydon dan Zanna (, 1987 1988) menunjukkan bahwa kemiripan sikap dapat memprediksi bagaimana orang menilai menghormati mereka satu sama lain, dan kesan pertama sosial dan intelektual yang dalam hal kesamaan aktivitas preferensi dan berbasis nilai kesamaan sikap masing-masing. Dalam perbandingan antargolongan, kesamaan sikap tinggi akan mengakibatkan homogenitas di antara anggota dalam kelompok sedangkan kesamaan sikap rendah akan menyebabkan perbedaan di antara anggota dalam kelompok, mempromosikan daya tarik sosial dan pencapaian kinerja kelompok yang tinggi dalam tugas yang berbeda (Hahn & Hwang, 1999).


Meskipun kesamaan sikap dan atraksi yang berhubungan linier, atraksi mungkin tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk mengubah sikap (Simons, Berkowitz & Moyer, 1970)

Sosial dan latar belakang budaya
Byrne, Clore dan Worchel (1966) menyarankan orang dengan status ekonomi yang sama kemungkinan besar akan tertarik satu sama lain.Buss & Barnes (1986) juga menemukan bahwa orang lebih suka pasangan romantis mereka untuk menjadi serupa dalam karakteristik demografi tertentu, termasuk latar belakang agama, orientasi politik dan status sosial-ekonomi .

Kepribadian
Para peneliti telah menunjukkan bahwa daya tarik interpersonal berkorelasi positif kepribadian kesamaan (Goldman, Rosenzweig & Lutter, 1980).Orang-orang cenderung menginginkan hubungan romantis dimana ada keramahan, hati nurani, ekstroversi, kestabilan emosi, keterbukaan terhadap pengalaman (Botwin, Buss, & Shackelford, 1997), dan gaya kelekatan(Klohnen & Luo, 2003).

Minat dan aktivitas
Kegiatan kesamaan terutama prediksi dari penilaian sukai, yang mempengaruhi penilaian tarik-menarik (Lydon, Jamieson & Zanna, 1988).Lydon dan Zanna (1987, 1988) menyatakan bahwa pemantauan diri yang tinggi orang lebih dipengaruhi oleh kesamaan aktivitas preferensi dari kesamaan sikap terhadap daya tarik awal, sedangkan rendah diri pemantauan orang lebih dipengaruhi pada daya tarik awal dengan kesamaan sikap berbasis nilai dari pilihan kegiatan kesamaan.

Ketrampilan sosial
Menurut langkah-langkah pasca-percakapan daya tarik sosial, kesamaan taktis berkorelasi positif dengan kepuasan partner dan peringkat kompetensi global, tetapi tidak berkorelasi dengan perubahan pendapat dan dirasakan tindakan persuasi (Waldron & Applegate, 1998).


Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Interpersonal_attraction

AtRakSi InTerpersonal

Atraksi Interpersonal adalah daya tarik antara orang-orang yang mengarah ke persahabatan dan hubungan romantis. Studi tentang atraksi interpersonal merupakan area utama penelitian dalam psikologi sosial. Atraksi interpersonal ini terkait dengan berapa banyak kita suka , cinta , benci, atau membenci seseorang. Hal ini dapat dilihat sebagai gaya bertindak antara dua orang yang cenderung menarik mereka bersama-sama dan menolak perpisahan mereka. Ketika mengukur daya tarik interpersonal, kita harus mengacu pada kualitas dari menarik serta kualitas dari atraksi untuk mencapai akurasi prediktif. Disarankan untuk menentukan daya tarik, kepribadian dan situasi harus diperhitungkan. Tolakan juga merupakan faktor dalam proses tarik interpersonal,konsepsi salah satu "daya tarik" lain dapat bervariasi dari atraksi ekstrem tolakan ekstrim.

Atraksi = hubungan romantis

The triangular theory of love by Robert Sternberg is based on intimacy, passion, and commitment. Para teori segitiga cinta menurut Robert Sternberg didasarkan pada keintiman, gairah, dan komitmen. The strongest type of love, consummate love , consists of these three aspects. Jenis terkuat cinta, cinta sempurna , terdiri dari tiga aspek. The idea of this theory is that love can consist of one component alone or any combination of the three parts: intimacy, passion, and commitment. Ide dari teori ini adalah kasih yang dapat terdiri dari satu komponen saja atau kombinasi dari tiga bagian: keintiman, gairah, dan komitmen.

Ada banyak faktor yang diperhitungkan saat hubungan berubah menjadi cinta.Salah satu faktor yang besar adalah budaya. Ini adalah masalah umum di antara dua orang yang datang dari latar belakang budaya yang sangat berbeda. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Phillip Shavers dan rekan-rekannya, mereka mewawancarai peserta dari berbagai belahan dunia dan menemukan cinta yang memiliki "makna yang sama dan berbeda dalam lintas-budaya. Para peserta Cina memiliki beberapa konsep tentang cinta yang berbeda seperti"-cinta kesedihan ", "kelembutan-kasihan", dan "kesedihan-kasihan".Studi yang dilakukan oleh Rothbaym dan pasangannya Tsang pada tahun 1998 di mana mereka meneliti lagu-lagu cinta populer dari seniman Amerika dan Cina.. Perbedaannya adalah bahwa lagu-lagu cinta di Cina "signifikan lebih dari referensi penderitaan dan hasil yang negatif daripada lagu cinta Amerika ". Hal ini mungkin karena keyakinan bahwa hubungan interpersonal yang ditakdirkan, dan dengan demikian tidak memiliki kontrol atas kehidupan cinta.

Atraksi persahabatan =

Warren Kubitschek dan Maureen Hallinan, Universitas Notre Dame, psikolog sosial menyarankan bahwa daya tarik merupakan hasil dari efek keakraban dan kesamaan dan status dari setiap pihak yang terlibat.Studi mereka adalah tentang program pelacakan yang mengatur siswa sesuai dengan tingkat kemampuan mereka untuk belajar. Hal ini sebagian besar dilaksanakan di tengah dan hampir semua sekolah tinggi. Tujuan mereka adalah untuk membuktikan bahwa siswa pada jalur yang sama memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menjadi teman dibandingkan dengan yang ada di jalur yang berbeda. Efek keakraban menciptakan lingkungan yang ideal dimana siswa berada dalam kedekatan fisik dekat dengan satu sama lain dan memiliki kesempatan untuk membangun keakraban yang mengarah ke persahabatan. Kesamaan dalam pelacakan siswa adalah penting karena mereka menemukan bahwa siswa melacak cenderung menjadi teman dengan orang lain yang memiliki prestasi akademik yang sama dan harapan seperti diri sendiri. Mereka juga menemukan bahwa siswa pada tingkat yang sama nilai status tentang kemungkinan akan nama mereka daripada mereka yang berada di tingkat yang lebih rendah daripada mereka sendiri. Mereka menyimpulkan bahwa meskipun faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh besar pada persahabatan, mereka tidak eksklusif untuk program terorganisir seperti pelacakan.

Banyak faktor yang menyebabkan atraksi interpersonal telah dipelajari.Yang paling sering dipelajari adalah: daya tarik fisik , keakraban , kesamaan , saling melengkapi , menyukai timbal balik , dan penguatan.

Mengapa orang bergabung dalam kelompok ?
Bergabung dalam kelompok memberikan beberapa manfaat :
* Orang lain dapat menjadi sumber informasi yang penting
* Kelompok juga menjadi bagian penting dari identitas kita,yang mengdefinisikan siapakah diri kita
* Kelompok membantu menegakan norma sosial,aturan eksplisit ataupun implisit mengenai prilaku kita yang dapat diterima.


Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Interpersonal_attraction
Buku Social Psychology Sixth Edition oleh Elliot Aronson.

Rabu, 06 Oktober 2010

Mengfungsikan kelompok secara efektif

Ajarkanlah kepada siswa, peraturan yang berlaku untuk kelompok. Anggota kelompok diharapkan :

* Berbagi tugas dan peralatan.
* Bekerja sama saru dengan yang lain dengan menggunakan bahasa yang santun dan suara yang baik
* Bersedia mendengarkan pendapat anggota yang lain
* Menghormati anggota yang lain dengan cara bersikap sopan dan memberikan komentar positif terhadap hasil kerja.
* Membantu satu sama lain, terutama bila ada anggota yang mendapat kesulitan.
* Bekerja sama menyiapkan gagasan, presentasi atau proyek yang bagus.
* Buatlah catatan pribadi selama berada dalam kelompok.

1. Tetapkan apakah anda menginginkan kelompok yang homogen atau heterogen, serta tentukan jumlah anggota dalam setiap kelompok,. Kelompok homogeny terdiri dari siswa yang mempunyai kebutuhan serta kemampuan yang kurang lebih sama, kelompok heterogen terdiri dari siswa dengan berbagai kebutuhan dan kemampuan berbeda.

2. Tentukan harapan-harapan anda. Terutama mengenai apa yang anda ingin lakukan oleh kelompok itu, dimana, dan kapan? Pahami pila tujuannya.

3. Rencanakan wilayah kerja serta bahan-bahan yang diperlukan sebelum siswa dikelompokkan.

4. Sebelum kelompok dibentuk, berilah pengarahan yang sejelas-jelasnya, baik secara lisan maupun tertulis, aturlah waktu untuk memilih peran kelompok dan bertukar pikiran, dan tetapkan prosedur evaluasi, baik untuk kelompok maupun untuk masing-masing anggota kelompok.

5. Apabila siswa secara individu ingin berperan dalam kelompoknya, (misalnya menjadi ketua kelompok, pembicara, illustrator, dll) jelaskan terlebih dahulu perannya dan cara pembentukannya sebelum kelompok terbentuk.

6. Begitu kelompok mulai bekerja, hendaknya anda berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lain dan berikan semangat.

7. Agar cara-cara membentuk kelompok tetap segar, cobalah mencari cara-cara yang inovatif lainnya.

8. Tambahkan unsur-unsur kompetitf dalam pembentukan kelompok.

Sumber : Kathy Paterson(dalam http://webcache.googleusercontent.com)

Karakteristik Umum Kelompok

Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.

Jalaluddin Rakhmat (2004) meyakini bahwa faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu:

1. Faktor situasional karakteristik kelompok:

a. Ukuran kelompok.

Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi krja kelompok bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok. Tugas kelompok dapat dibedakan dua macam, yaitu tugas koaktif dan interaktif. Pada tugas koaktif, masing-masing anggota bekerja sejajar dengan yang lain, tetapi tidak berinteraksi. Pada tugas interaktif, anggota-anggota kelompok berinteraksi secara teroganisasi untuk menghasilkan suatu produk, keputusan, atau penilaian tunggal. Pada kelompok tugas koatif, jumlah anggota berkorelasi positif dengan pelaksanaan tugas. Yakni, makin banyak anggota makin besar jumlah pekerjaan yang diselesaikan. Misal satu orang dapat memindahkan tong minyak ke satu bak truk dalam 10 jam, maka sepuluh orang dapat memindahkan pekerjaan tersebut dalam satu jam. Tetapi, bila mereka sudah mulai berinteraksi, keluaran secara keseluruhan akan berkurang.

Faktor lain yang mempengaruhi hubungan antara prestasi dan ukuran kelompok adalah tujuan kelompok. Bila tujuan kelompok memelukan kegiatan konvergen (mencapai suatu pemecahan yang benar), hanya diperlukan kelompok kecil supaya produktif, terutama bila tugas yang dilakukan hanya membutuhkan sumber, keterampilan, dan kemampuan yang terbatas. Bila tugas memerlukan kegiatan yang divergen (seperti memhasilkan gagasan berbagai gagasan kreatif), diperlukan jumlah anggota kelompok yang lebih besar.

Dalam hubungan dengan kepuasan, Hare dan Slater (dalam Rakmat, 2004) menunjukkan bahwa makin besar ukuran kelompok makin berkurang kepuasan anggota-anggotanya. Slater menyarankan lima orang sebagai batas optimal untuk mengatasi masalah hubungan manusia. Kelompok yang lebih dari lima orang cenderung dianggap kacau, dan kegiatannya dianggap menghambur-hamburkan waktu oleh anggota-anggota kelompok.

b. Jaringan komunikasi.

Terdapat beberapa tipe jaringan komunikasi, diantaranya adalah sebagai berikut: roda, rantai, Y, lingkaran, dan bintang. Dalam hubungan dengan prestasi kelompok, tipe roda menghasilkan produk kelompok tercepat dan terorganisir.

c. Kohesi kelompok.

Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok. McDavid dan Harari (dalam Jalaluddin Rakmat, 2004) menyarankam bahwa kohesi diukur dari beberapa faktor sebagai berikut: ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain; ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok; sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personal.

Kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasan anggota kelompok, makin kohesif kelompok makin besar tingkat kepuasan anggota kelompok. Dalam kelompok yang kohesif, anggota merasa aman dan terlindungi, sehingga komunikasi menjadi bebas, lebih terbuka, dan lebih sering. Pada kelompok yang kohesifitasnya tinggi, para anggota terikat kuat dengan kelompoknya, maka mereka makin mudah melakukan konformitas. Makin kohesif kelompok, makin mudah anggota-anggotanya tunduk pada norma kelompok, dan makin tidak toleran pada anggota yang devian.

d. Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan kefektifan komunikasi kelompok. Klasifikasi gaya kepemimpinan yang klasik dilakukan oleh White danLippit (1960). Mereka mengklasifikasikan tiga gaya kepemimpinan: otoriter; demokratis; dan laissez faire. Kepemimpinan otoriter ditandai dengan keputusan dan kebijakan yang seluruhnya ditentukan oleh pemimpin. Kepemimpinan demokratis menampilkan pemimpin yang mendorong dan membantu anggota kelompok untuk membicarakan dan memutuskan semua kebijakan. Kepemimpinan laissez faire memberikan kebebasan penuh bagi kelompok untuk mengambil keputusan individual dengan partisipasi dengan partisipasi pemimpin yang minimal.

e. Homogenitas kelompok

Kelompok cenderung memiliki kesamaan dalam usia, jenis kelamin, dan pandangan-pandangan. Homogenitas tersebut disebabkan dua alasan: (a)Banyak kelompok cenderung menaril orang-orang yang memiliki kesamaan sebelum mereka bergabung,(b)Kelompok cenderung beroperasi dengan cara yang memperkuat kesamaan anggota-anggotanya.

f. Norma sosial
Norma sosial merupakan penentu perilaku yang penting. Norma suatu kelompok berbeda dengan kelompok yangb lain. Kekuatan norma dalam menentukan perilaku menjadi jelas bila kita terlalu sering melanggarnya:kita dijauhi anggota lainnya, dalam kasus yang ekstrim ditekan untuk keluar dari kelompoknya.


2. Faktor personal karakteristik kelompok:

a. Kebutuhan interpersonal

William C. Schultz (1966) merumuskan Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relations Orientatation), menurutnya orang menjadi anggota kelompok karena didorong oleh tiga kebutuhan intepersonal sebagai berikut:

1) Ingin masuk menjadi bagian kelompok (inclusion).

2) Ingin mengendalikan orang lain dalam tatanan hierakis (control).

3) Ingin memperoleh keakraban emosional dari anggota kelompok yang lain.

b. Tindak komunikasi

Mana kala kelompok bertemu, terjadilah pertukaran informasi. Setiap anggota berusaha menyampaiakan atau menerima informasi (secara verbal maupun nonverbal). Robert Bales (1950) mengembangkan sistem kategori untuk menganalisis tindak komunikasi, yang kemudian dikenal sebagai Interaction Process Analysis (IPA).

c. Peranan

Seperti tindak komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang lebih baik, atau hanya menampilkan kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat kemajuan kelompok). Beal, Bohlen, dan audabaugh (dalam Rakhmat, 2004: 171) meyakini peranan-peranan anggota-anggota kelompok terkategorikan sebagai berikut:

1) Peranan Tugas Kelompok. Tugas kelompok adalah memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru. Peranan tugas berhubungan dengan upaya memudahkan dan mengkoordinasi kegiatan yang menunjang tercapainya tujuan kelompok.

2) Peranan Pemiliharaan Kelompok. Pemeliharaan kelompok berkenaan dengan usaha-usaha untuk memelihara emosional anggota-anggota kelompok.

3) Peranan individual, berkenaan dengan usaha anggota kelompok untuk memuaskan kebutuhan individual yang tidak relevan dengantugas kelompok.


Sumber :
http://webcache.googleusercontent.com
Buku Social Psychology,Sixth Edition

Study stimulasi komputer dalam penelitian neuroscience

Penelitian neuroscience (ilmu yang membahas tentang otak) kini memang sedang berkembang, antara lain yang ramai adalah penggunaan neurofeedback, atau disebut juga biofeedback. Caranya, si anak diberi stimulus auditory dan visual dengan menggunakan permainan games dengan komputer, maupun stimulus getaran-getaran. Dengan getaran-getaran, suara musik atau berbagai bunyian, games atau film warna warni, maka alat pencatat gelombang otak yang disebut Electro-encephalogram (EEG) akan mencatat daerah mana di bagian otak itu yang memberikan respon. Begitu juga berapa besar dan cepat responsnya. EEG akan mencatat gelombang itu dalam bentuk gelombang yang tingginya tidak sama pada setiap aktivitas otak.

Awalnya bertujuan untuk menjawab berbagai asumsi yang muncul di kepala para ahli syaraf atau neurolog yang senang dengan riset-riset ilmiah, untuk melihat kondisi-kondisi tertentu dari pasien neurologi. Misalnya untuk melihat kondisi pasien pasca kecelakaan, kondisi pasien epilepsi, pasca operasi otak, dan lama-lama pada anak-anak yang mempunyai gejala gangguan perkembangan neurologis. Hasil-hasil risetnya kemudian diaplikasikan di dalam klinik guna membantu penegakan diagnosa.

Metoda neurofeedback ditemukan oleh seorang dokter Amerika, Dr. Barry Sterman dari Universitas California di tahun 1960. Selama 20 tahun terus menurus dilakukan penelitian dan pada tahun 1980 mulai dilakukan penelitian di dalam klinik untuk anak dengan gangguan konsentrasi. Harapannya dengan pembelian stimulus dari luar, maka bioelektrik otak yang terjadi sebagai hasil dari perubahan arus neurotrasmitter (zat pembawa arus listrik) akan bisa diatur. Dari sana kemudian terus dikembangkan ke arah anak-anak bergangguan lainnya, seperti gangguan belajar, gangguan perkembangan kognitif, depresi, dan sebagainya. Modifikasi alatpun semakin beragam, begitu juga stimulus yang diberikan semakin bermacam-macam.

Prinsip dasar neurofeedback

Neurofeedback atau disebut juga electro-encephalograph biofeedback, yang kini banyak digunakan sebagai alat terapi, melakukan monitoring kondisi bioelektrik otak dengan tujuan akhir menormalisasi fungsi otak. Artinya apabila misalnya seorang anak yang mempunyai masalah konsentrasi, impulsif, gangguan belajar, epilepsi, ataupun orang dewasa yang mengalami keadaan depresi yang terus menerus, dimana memang terjadi kondisi bioelektrik yang tidak normal, maka kondisi ini diharapkan dapat dinormalkan. Dan fungsi kerja otak diharapkan juga dapat menjadi normal.

Terapinya sangat sederhana, si penderita diminta untuk mengerjakan sesi terapi dengan cara melihat layar komputer, mendengarkan musik, atau juga dengan getaran-getaran magnet yang dikirim ke permukaan kulit kepala. Dengan stimulasi ini diharapkan bioelektrik yang tidak normal akan terangsang ke arah apa yang kita inginkan. Misalnya pada anak ADHD lebih banyak mempunyai gelombang beta1 yaitu 12 – 18 HZ, maka gelombang ini diturunkan ke arah beta2 atau 4-8 HZ.

Diharapkan dengan berkali-kali latihan demikian, maka otak akan terangsang melakukan kondisi yang diharapkan menjadi suatu kebiasaan.

Berbagai penelitian neurofeedback

Namun bagaimana literatur ilmiah berbicara tentang neurofeedback therapy ini? Hingga saat ini masih belum ada kesimpulan yang konklusif tentang keberhasilan kerja neurofeedback ini. Sejak pertama kali percobaan neurofeedback dari tahun 1960 sudah ada sekitar 1000 publikasi neurofeedback therapy ini. Kebanyakan studi-studi itu menunjukkan bahwa laporan studi itu harus disingkirkan karena adanya masalah: tidak ada kelompok kontrol, kelompok percobaan terlalu kecil, adanya perbedaan pemberian perlakuan – orang percobaan terlalu bervariasi, diagnosanya tidak jelas, kriteria tidak jelas, kesimpulan peneliti tidak benar, tidak meliwati bijak bestari (peer reviewers), statistik salah, tidak menunjukkan disain sebelum dan sesudah perlakuan (before and after treatment), dan tidak ada studi lanjutan yang spesifik. Penelitian-penelitian yang dilakukan pada anak-anak bermasalah belajar, gangguan konsentrasi dan disleksia, menunjukkan bahwa ada kemajuan dalam konsentrasi namun saat dilakukan pemeriksaan kemajuan prestasi sekolah tidak menunjukkan apa-apa. Akhir kata, neurofeedback therapy ini terlalu banyak janji dan ujungnya selalu diisi dengan: perlu penelitian lebih lanjut. Padahal sudah 50 tahun dilaksanakan penelitian untuk ini.


Sumber : http://webcache.googleusercontent.com

Selasa, 05 Oktober 2010

Eksperimen Laboratorum dalam kelompok

Sebenarnya Eksperimen adalah metode peneltian yang ditujukan untuk meneliti hubungan sebab akibat dengan memanipulasi satu atau 2 variabel pada satu atau lebih kelompok eksperimen, dan membandingkan hasilnya dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami manipulasi.

Contoh : meneliti efek diberikan diklat (pendidikan dan latihan) terhadap prestasi kerja karyawan. Dalam penelitian eksperimen ini maka pada satu kelompok diberikan diklat (kelompok ini kita sebut dengan kelompok eksperimental) dan pada kelompok yang lain tidak diberikan diklat (disebut kelompok kontrol). Sedangkan diklat itu sendiri disebut treatment (garapan). Lalu bagaimana kita mengukurnya ? Adalah dengan melihat hasil dari prestasi kerja karyawan setelah diberi diklat dalam waktu (periode) tertentu.

Eksperimen di dalam penelitian sosial tentunya tidak sama dengan eksperimen dalam laboratorium yang dilakukan oleh ahli ilmu eksakta. Laboratorium dalam penelitian sosial bisa ruangan kelas,pasar, kantor, kelompok manusia, dsb tanpa peralatan yang ada seperti dalam laboratorium sesungguhnya.

Dari contoh di atas, terlihat bahwa peneliti dalam menggunakan metode eksperimen perlu menciptakan kondisi-kondisi tertentu yang sering sulit dilaksanakan. Eksperimen di dalam penelitian sosial memang sulit dilakukan karena yang diteliti adalah gejala sosial. Padahal gejala sosial tidak dapat diadakan secara eksperimental atau diciptakan untuk diteliti. Artinya, peneliti sosial hanya meneliti gejala-gejala sosial yang ada dalam masyarakat bukan menciptakan gejala sosial tersebut untuk diteliti.

Menyadari akan hal tersebut maka penelti ilmu sosial dalam bereksperimen berusaha menyamakan atau menyeragamkan situasi dan konsidi hubungan variabel-variabel yang diteliti.

Inilah gambaran sederhana tentang pemahaman metode ekperimen. Tetapi pada kenyataannya, tidak sesederhana itu. Dalam penelitian-penelitian sosial, desain metode eksperimen yang digunakan untuk penelitian akan sulit mendapatkan hasil yang akurat karena banyak variabel luar yang ikut berpengaruh dan sulit mengontrolnya. Prestasi kerja (dalam contoh di atas) ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh diklat saja tetapi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti motivasi, lingkungan kerja, dsb.

Eksperimen di dalam penentilitian sosial tentunya tidak sama dnegna eksperimen dalam laboratorium yang dilakukan oleh ahli ilmu eksakta. Laboratorium dalam peneitian sosial bisa ruangan kelas,pasar, kantor, kelompok manusia, dsb tanpa peralatan yang ada seperti dalam laboratorium sesungguhnya.

Dari contoh di atas, terlihat bahwa peneliti dalam menggunakan metode eksperimen perlu menciptakan kondisi-kondisi tertentu yang sering sulit dilaksanakan. Eksperimen di dalam penelitian sosial memang sulit dilakukan karena yang diteliti adalah gejala sosial. Padahal gejala sosial tidak dapat diadakan secara eksperimental atau diciptakan untuk diteliti. Artinya, peneliti sosial hanya meneliti gejala-gejala sosial yang ada dalam masyarakat bukan menciptakan gejala sosial tersebut untuk diteliti.

Menyadari akan hal tersebut maka penelti ilmu sosial dalam bereksperimen berusaha menyamakan atau menyeragamkan situasi dan konsidi hubngan variabel-variabel yang diteliti.

Sumber : http://webcache.googleusercontent.com

Penelitian Lapangan dalam Pendekatan Empiris

Penelitian lapangan

Penelitian lapangan merupakan penelitian yang dilakukan dalam ruangan terbuka, dimana kelompok eksperimen masih dapat berhubungan dengan faktor-faktor luar.

* Kelebihan penelitian lapangan adalah hasil penelitian ini dapat diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari.

* Kelemahan penelitian lapangan adalah tingkat kepastian hubungan sebab akibat tidak sebesar pada penelitian laboratorium karena sulitnya untuk mengontrol variabel-variabel pengganggu.

Tipe-tipe desain

Ada beberapa tipe desain yang biasa digunakan oleh para peneliti dalam penelitian eksperimen, yakni:

• Tipe desain klasik (classical experimental design)

Dalam tipe ini, pembagian dua kelompok subjek penelitian dilakukan secara pembagian acak (random assignment).Pada kelompok eksperimen, pertama-tama dilakukan observasi awal, lalu diberikan stimulus, dan untuk mengetahui hasilnya dilakukan observasi akhir.Pada kelompok kontrol, dilakukan observasi di awal dan di akhir, tanpa diberikan stimulus tertentu.

• Tipe observasi akhir (two group posttest only)

Dalam tipe ini, pembagian dua kelompok subjek penelitian dilakukan secara pembagian acak (random assignment).Pada kelompok eksperimen langsung diberikan stimulus dan observasi akhir, tanpa dilakukan observasi awal. Pada kelompok kontrol, observasi hanya diberikan satu kali saja.

• Tipe empat kelompok (solomon four group)

Tipe ini merupakan penggabungan dari tipe desain klasik dan tipe observasi akhir.Dalam tipe ini, terdapat dua kelompok eksperimen dan dua kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen pertama, dilakukan observasi terlebih dahulu, lalu diberikan stimulus, dan dilakukan observasi akhir.Untuk kelompok kontrol pertama, dilakukan observasi awal dan observasi akhir.Pada kelompok eksperimen kedua, langsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir tanpa pengamatan awal.Untuk kelompok kontrol kedua, observasi hanya diberikan satu kali saja.



Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Percobaan#Penelitian_lapangan

Teori Produktivitas Kelompok Dalam Psikologi Kelompok

Teori Prestasi Kelompok (Theoryof Group Achievement)
Teori Prestasi kelompok dikemukakan oleh Stogdill pada tahun 1959. Stogdill menganggap bahwa teori-teori tentang kelompok pada umumnya didasarkan pada konsep tentang interaksi yang memiliki kelemahan teoritis tertentu. Maka dari itu, Stogdill mengajukan teori prestasi kelompok. Teori yang dikemukakan oleh Stogdill ini, menyertakan
^masukan (input)
^variabel media
^prestasi (output)

Teori ini merupakan hasil pengembangan dari teori-teori sebelumnya yang tergolong dalam tiga orientasi yang berbeda, seperti : orientasi penguat (teori-teori belajar), orientasi lapangan (teori-teori tentang interaksi), dan orientasi kognitif (teori-teori tentang harapan).

Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori ini adalah proses terjadinya dalam kelompok dimana dimuiai dari masukan ke keluaran melalui variabel-variabel media. Dalam teori ini akan terdapat umpan balik (feed-back). Berikut ini adalah penjabaran teori prestasi yang terbagi atas beberapa faktor yang mempengaruhi suatu kelompok, yaitu :

a.Masukan dari anggota Masukan dari anggota merupakan sumber input.
Menurut Stogdill, kelompok adalah suatu sistem interaksi yang terbuka. Struktur dan kelangsungan sistem sangat bergantung pada tindakan-tindakan anggota dan hubungan antara anggota. Ada tiga elemen penting yang termasuk dalam masukan anggota, yaitu : interaksi sosial (menyatakan suatu hubungan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, interaksi ini terdiri atas aksi dan reaksi antara anggota-anggota kelompok yang berinteraksi); hasil perbuatan (bagian dari suatu interaksi yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kerja sama, berencana, menilai, berkomunikasi, membuat kepetusan); dan harapan (kesediaan untuk mendapatkan suatu penguat, fungsi dari harapan ini adalah sebagai dorongan (drive), perkiraan tentang menyenangkan atau tidaknya dasil, dan perkiraan tentang kemungkinan hasil itu akan benar-benar terjadi).

b. Variabel media
Variabel media menjelaskan mengenai beroperasi dan berfungsinya suatu kelompok. Elemen-elemen yang ada di dalamnya, yaitu : struktur formal (struktur formal mencakup fungsi dan status dimana kelompok terdiri atas individu-individu yang masing-masingmembawa harapan dan perbuatannya sendiri) dan struktur peran (struktur peran mencakup tanggung jawab dan otoritas dimana individu yang menduduki posisi tertentu hampir tidak berpengaruh pada status dan fungsi posisi tersebut).

c. Prestasi kelompok
Prestasi kelompok merupakan output atau tujuan dari kelompok. Ada tiga unsur yang menentukan prestasi kelompok, yaitu : produktivitas (derajat perubahan harapan tentang nilai-nilai yang dihasilkan oleh perilaku kelompok), moral (derajat kebebasan dari hambatan-hambatan dalam kerja kelompok menuju tujuannya), dan kesatuan (tingkat kemampuan kelompok untuk mempertahankan struktur dan mekanisme operasinya dalam kondisi yang penuh tekanan (stress).

Sumber : http://newchoi.blogspot.com/2010/05/komunikasi-kelompok.html

Pendekatan Teoritis Mengenai Teori Sintalitas Kelompok

Sejauh ini kita telah memusatkan perhatian kita pada individu-individu dan perkembangan mereka dengan ineraksinya dalm lingkungan mereka.
Cattel menyatakan bahwa kita dapat menggunakan dimensi-dimensi objektif untuk melukiskan kelompok-kelompok persis sama seperti cara kita menggunakan sifat-sifat untuk melukiskan individu-individu. Dimensi-dimensi ini mencerminkan sintaliatas kelompok (Cattel,1948),yang setara dengan kepribadian individu.
Jadi tugas penting untuk mempelajari kepribadian dalam hubunganya dengan matriks sosiokultural adalah membuat deskripsi tentang sintalitas berbagai kelompok yang mempengaruhi kepibadian individu.

Penelitian awal dalam rangka pengkajian sintalitas kelompok-kelompok kecil telah mnghasilkan deskripsi sejumlah faktor yang diberi label seperti
^keterbukaan ekstrovert vs penarikan diri
^sifat santai dan relistik vs sifat agresif yang keras dan tegar
^kesadaran akan tujuan yang kuat dan pasti vs kekacauan yang penuh dengan kesadaran diri
^ketidakberanian dalam komunikasi batin dan sebagainya.

Dengan adanya variabel-variabel sintalitas kelompok seperti ini, terbukalah kemungkinan untuk menyelidiki hubungan-hubungan antar kelompok yang berlainan satu sama laindalam hal dimensi-dimensi dan kepribadian individual anggotanya.

Cattel telah merumuskan gagasannya tentang hubunganya antara kepribadian individu dan sintalitas kelompok dalam rangkaian yang terdiri dari 28 dalil,yang dilaporkanya dalam sebuah artikel teoritis(1961)dan sebuah bab buku (1966b). Ia menyimppulkan bahwa hubungan antara kepribadian individual para anggota kelompok dan sintalitas kelompok ditentukan oleh variabel struktur kelompok.

Dimensi kelompok :
^Sifat-sifat sintalitas
^Sifat-sifat struktur kelompok
^Sifat-sifat populasi

Sumber : http://books.google.co.id